Kategori
Event

Pameran & Bazaar Art Seniman Peduli Bencana

Art for Charity

Seni untuk Amal

  • Pembuka

Memory di tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki; terlintas di benak saya, ketika mengunjungi pameran Ipe Ma’ruf seorang illustrator handal di jamannya. Beliau menerima uang hasil jualnya karya lukis, tentu sajat idak sedikit menurutuku ransaya saat itu; namun uang itu diserahkan kepada peminta-minta seketika karena rasa iba dengan alasan untuk keluarganya. Pak Ma’ruf lupa bahwa ternyata istrinya menunggu uang hasil penjualan lukisan tadi, padahal nada yang sama juga dialami oleh keluarga Ma’ruf ..uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari itupun harus di usahakan lagi

Ilustrasi di atas merupakan gambaran betapa murah hati seniman; betapa mudahnya rasa tersentuh oleh keadaan yang menyedihkan. Seniman adalah sosok manusia yang eksentrik, dalam arti mudah tersentuh oleh hal-hal yang bersifat ‘kemanusiaan’, karena rasa selalu diasah dengan kebiasaan mengamati disertai dengan memahami keadaan. Proses ini masuk dalam kerangka ‘representasi’.

“ Representasi adalah proses dimana sebuah objek ditangkap oleh indra seseorang, lalu masuk ke akal untuk di proses yang hasilnya adalah sebuah konsep/ide yang dengan bahasa akan disampaikan / diungkapkan kembali…..representasi adalah proses pemaknaan kembali sebuah objek/fenomena/realitas yang maknanya. Representasi juga sangat bergantung dengan bagaimana pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang melakukan representasi tersebut.”    

  (https://www.kompasiana.com/anggraini.m.e)

Seorang seniman adalah orang yang selalu menangkap stimulus baik itu keaadaan atau peristiwa maupun bentuk yang menyentuh sensasinya serta meneruskan dalam imajinasinya menjadi symbol-simbol khusus. Mungkin seluruh panca inderanya dimanfaatkan untuk menangkap objek stimulus yang sangat unik itu, maka pengetahuan serta pengalamannya menjadikan kemampuan yang sensitive dalam memilih objek. Proses ini sering disebut dengan objektifikasi. Semua potensi yang ada dalam diri seniman dikeluarkan untuk mengobjektifikasi; walau hanya sedikit saja materi yang di objektifikasi namun proses pengembangan atau pemaknaan bisa menjadi luas dan besar, makanya sebagian referensi  mengatakan sebagai proses pembesaran, karena objek kecil itu menjadi titik besaran mengembangkan ide dan gagasan. Bagi awam proses ini dianggap ‘remeh’ atau ‘sepele’ karena   hal yang kecil dan tidak berarti dalam kehidupannya. Seniman mempunyai kelebihan dari awam, karena mampu membaca objek sebagai pemicu (triger) mengembangkan idenya dalam karya seni.

Seniman tidak saja orang yang melihat, namun sebenarnya juga orang yang mampu membesarkan ide dan menerang objek material menjadi objek yang formal. Seniman mampu melihat objek dengan mata batin dan pikirannya, maka seolah mempunyai otak ketiga (third brave). Memandang suatu bentuk dan melambungkan menjadi bentuk baru, bentuk lain, atau bentuk yang imajinatif sampai orang tidak paham maknanya. Itulah kelebihan seniman mampu memanfaatkan neuro aesthetics nya untuk menjalankan dan mengubah visi objek kedalam visi karya seni. Akhirnya dapat di katakan seniman adalah seorang yang jenius (asal kata dari genie man genie di baca seni, akhirnya menjadi kata Seniman). Jadi, seniman adalah seorang yang jenius; kadang pikiran, dan rasa melebihi orang biasa dengan menembus mata batinnya. Dalam istilah Ki Ageng Suryo mentaram dikatakan sebagai kramadangsa. Rasa yang hadir dalam dirinya sendiri setelah mampu memahami objek material dan diangkat dalam wawasan objek formalnya.

  • Representasi

Dalam proses representasi, Seniman dengan penciptaan akan mengangkat‘suatu masalah’ tidak hanya berbentuk fisik, namun bentuk yang hadir di belakang bentuk nyata, artinya imajinasinya lebih kuat dari pada matanya. Kemampuan batin ini, seniman membaca peristiwa di belakang ujud fisiknya (material).Oleh karenanya, Aristoteles mengatakan: “The aim of art is to represent not the outward appearance of things, but their inward significance.”Maka, seniman itu kadang dikatakan orang yang eksentrik. Kata ini terangkat dari pemahaman seni dilihat bukan saja bentuk luar namun bentuk dalam yang penuh dengan arti dan permasalahan terpendam. Seniman adalah sosok yang eksentrik karena pemikiran terhadap dapat menembus arti objek yang sebenarnya. Objek ‘seorang pengemis tua’ akan menjadikan imajinasi seorang pengusaha yang kaya raya sebagai subjek lukisannya. Seniman membaca dunia fisik dan dunia di balik fisik suatu objek. Pikiran di luar manusia normal inilah selanjutnya dikatakan eksentrik. (cttn. Eks = luar, sentrik dari sentrum atau pusat yaitu kehidupan mansuia normal, seniman yang eksentrik adalah seniman yang berpikirnya di luar batas pemikiran manusia normal karena ide dan kreativitasnya berbeda dengan awam).

Dalam pameran ini, seorang Godod Sutedjo, Aad Mandar, Maria FP, Kak Aris, Afit Ruseno, Dgam Haryo, MadaLinggau. Nasirun, Sukoco, TulusWarsito, Anugrah Fadly Kreatoseniman, Otok Bima Sidarta, Budi Utomo, Igrar De,Achmad Masih, AmboroLiring, Nugroho Hoho, Komroden Haro, N Dyaz, Arlan Kamil, Yulhendri, Batara Legenda, Slamet Jumiarto, Yamik, menawarkan karya yang tidak sekedar dilihat, namun perlu pencermatan dan pemahaman. Apa yang diatampilkan dalam subjek sebenarnya apa yang dia pikirkan. Peristiwa dibalik subjek yang hadir semestinya menggambarkan kondisi lingkungan fisik maupun social. Karya-karya ini menjadi sebuah gambaran dirinya ketika melihat dan mengobjektifikasi. Pikiran seniman yang eksentrik inilah yang kadang menghadirkan ‘bukan apa yang dia amati’ melainkan apa yang dia pikirkan. Ranah ‘iba’, ‘sayang’, ‘cinta sesama umat manusia’ adalah pikran dan perasaan yang digerakkan untuk melihat objek yang ditangkap oleh mata. Seniman mampu membaca peristiwa dengan persepsinya, karena seni itu letaknya pada persepsi juga; maka mengapresiasi sebuah karya seni rupa yang hadir sebenarnya menghargai persepsi seniman terhadap apa saja yang dijadikan objeknya dalam karya seni.

Kehadiran bentuk-bentuk Seni itu hidup dan tidak diam, selalu bergerak kreatif memunculkan gagasan-gagasan baru, maka Seni mangajak peka terhadap sesuatu, tanggap terhadap situasi dan peristiwa yang terjadi saat ini. Peristiwa alam yang menimpa manusia bisa menjadi objek formal seniman ketika akan mencurahkan gagasannya. Seniman membaca peristiwa dengan pikiran dan rasa oleh karenanya karya seninya sering disebut ‘karta meta kognisi’. Tentu saja, meta kognisi yang di iringi oleh mata batin yang sering dikatakan sebagai pekerjaan otak kanannya yang berbau ‘neuro aesthetics’.

Otak ‘ketiga’ (third brain) yang dijadikan untuk merepresentasi objek; seperti halnya Budhisme menyebutnya sebagai ‘usnisha’. Otak itu dibungkus oleh rambut yang digelung. Ilustrasi ini sebenarnya juga sebagai presentasi dari makna membaca sebuah karya seni. Aristoteles pun juga memberikan gambaran bahwa melihat sebuah karya seni bukan saja apa yang dilihat, melain kanapa yang dipikirkan seniman. Picasso seorang seniman yang penuh terka terhadap dunia ini mengatakan: ‘The artist is a receptacle for emotions that come from all over the place: from the sky, from the earth, from a scrap of paper, from a passing shape, from a spider’s web.‘ (Seniman adalah wadah untuk emosi yang datang dari semua tempat: dari langit, dari bumi, dari secarik kertas, dari bentuk yang lewat, dari jaring laba-laba).

Jika dirunut lebih mendalam, apa yang dilakukan seniman ketika mengambil objek itu berawal dari penangkapan stimulus oleh alat indra yang sering disebut merasakan sensasi yang biasa manusia dapatkan dari kelima alat indra manusia (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit). Sensasi yang ditangkap kelima alat indra yang selanjutnya kita maknai seperti, melihat sesuatu yang indah, membau parfum yang wangi, mendengar suara yang lembut, merasakan pedas saat makan, merasakan permukaan yang halus pada keramik itu disebut dengan persepsi. Objek yang sebenarnya hanya dilihat oleh mata awam, oleh seniman dilihat dan diamati ‘peristiwa dibalik peristiwa’. Dan karya yang divisualkan ini lebih mengutamakan bayangan pikiran seniman. Morris Hunt mengatakan ‘nothing more the shadow of humanity’.

03. Perupa dan Kesetiakawanan

Pameran yang digelar sebagai ‘Charity’ ini sebenarnya adalah pembacaannya terhadap situasi masyarakat. Kejadian alam yang menimpa masyarakat menjadi tangkapan objektivikasinya. Beberapa diantaranya membaca kejadian dan membayangkannya hal-hal yang terjadi, namun juga ada karya yang ingin mengungkapkan objek visualnya; Dona Rahmawati, Sri Utami, Gusyud Wahyudi, Batara Lubis, Wantiyo, Meitika Candra Lantiva, Suroto, Diaz Alvares, Nur Azizah, Aris Munandar, LiekSuyanto, Niluh Sudarti, R.Kirman, Hani Santana mengutamakan kejelasan makna bentuk – bentuknya. Sehingga, figur-figur yang dihadirkan merupakan penglihatan dunia nyata.

Mereka semuanya ini ingin menjadikan peristiwa dalam bentuk nyata maupun imajinasi seniman ini menjadi sebuah ‘kawanan’ ide yang memadu sebagai kercedasan kolektif sekaligus keolegialitas dengan lingkungan fisik maupun sosial.Mereka menjadi lebih dekat dengan alam, dan ketika alam ini terjadi musibah, maka ingin mengulurkan tangan serta hati untuknya. Lingkungan social dan ala mini menjadi trigger yang tidak diam dan tidak berhenti hanya dipandang serta ditampilkan dalam karya seni rupa, malinkan juga untuk berbagai rasa. Ketika lingkungan butuh sentuhan batin inilah Seniman melepaskan karya mereka sebagai bagian dari kesetiakawanan. Jika dianggap sebagai amal, maka lukisan pun disodorkan sebagai bagian dari amal. Art is the most intense mode of individualism that the world has known.Di sinilah kondisi sering kali membutuhkan sumber daya, terkadang mendesak, dan seniman merasa berkewajiban untuk membantu atau merasa bersalah jika mereka tidak dapat membantu. Seniman sering merasakan sakitnya sesama manusia dan hewan. Mereka mengembangkan welas asih dan semangat untuk berbagai tujuan amal dan mencoba meringankan penderitaan orang lain melalui sumbangan seni yang murah hati.Kemudian, “Artists often feel the pain of other fellow human beings and animals. They develop compassion and passion for various charitable causes and try to alleviate suffering of others through generous art donations. “Donor loyalty is not about the donor being loyal to you, it is you being loyal to the donor.”

Keramahan dan kemurahan seniman ini belum dibaca oleh masyarakat, pameran yang bertajuk‘Art for charity´ini sebagai bukti kepedulian seniman dalam membaca kondisimasyarakat,.Mereka tidak pelit melepaskan karya untuk dimasi dan amal yang diharapkan adalah kesenangan Bersama. Mereka yang terjkena musibah banjir atau kerusakan akibat ala mini sebagai momen yang tepat dalam menanggapi serta memberikan hati yang tertuang dalam karya rupa ini sebagai uluran kasih sayang. Maka Friedrich Nietzsche (seorang filsuf) menyatakan ‘Art is the proper task of life’.

Akhirnya, kepada penimat seni bisa disampaikan harapan; bahwa karya seni ini sebagai wahana untuk memelihara hubungan social dengan masyarakat, dan seniman sangat peduli dengan kesedihan yang menimpa masyarakat. Keikhlasannya melepas karya seni ini sebenarnya merupakan ungkapan yang terdalam. Jika dikaitkan dengan kecerdasan kolegialitas, maka seni itu bagian dari berbudayanya seniman, hanya cara dan mengungkapkan perasaan berbeda dengan masyarakat awam. Seniman jadi bagian dari pranata social untuk bergaul dengan masyarakat. ‘If art is to nourish the roots of our culture, society must set the artist free to followhis vision wherever it takes him(John F. Kennedy).  Bagi masyarakat di amanatkan oleh Albert Camus: ‘Without culture, and the relative freedom it implies, society, even when perfect, is but a jungle. This is why any authentic creation is a gift to the future.Biarkan seniman membaca alam social dan lingkungannya sebagai bagian dari kreativitas dan pengabdiannya kepada masyarakat itu sendiri.Bagi seniman:‘Creativity is allowing yourself to make mistakes. Art is knowing which ones to keep(Scott Adams). Hilangnya karya yang terjual akan memberikan semangat apresiatif terhadap seniman, maka berikan apresiasi kepada seniman agar tidak putus kreativitasnya. Kreativitas berseni akan terus dilakukan seniman demi kesetiakawanan karena ketika seniman berseni akan mengetahui mana yang harus disimpan dan dikeluarkan dalam karya.

“Selamat beramal dengan karya, karyamu tidak akan habis karena amal, dan pameran ini sebagai bukti kepedulianmu terhadap sesama”

“ Sukses hari ini adalah keberhasilan di masa datang”

Sleman, 28 Februari 2021

Hajar Pamadhi

Video Pameran dan Bazaar Art Seniman Peduli bencana dapat di lihat di https://www.youtube.com/watch?v=598BdIiexTY&t=57s

Karya seni merupakan ekspresi jiwa seniman yang di curahkan melalui media, diantaranya adalah lukisan, patung, Instalasi. Pandemi Covid 19 tidak membuat semangat para seniman surut untuk berkarya, justru menantang seniman untuk bangkit dan peka terhadap situasi. Olah rasa menjadi ritual sehari-hari dalam proses menghasilkan konsep dan hasil karya.

Seni itu hidup dan tidak diam, selalu bergerak kreatif memunculkan gagasan-gagasan baru. Seni mengajak peka terhadap sesuatu, tanggap terhadap situasi dan peristiwa yang terjadi saat ini.

Melihat Indonesia terkini dengan berbagai bencana yang melanda, beberapa seniman tergerak mendonasikan separuh ( 50 % ) dari penjualan karyanya untuk diberikan kepada korban bencana alam, diantaranya di Sulawesi, Kalimantan .

Kontak Pameran & Bazar Art ( Online ): Sukoco Hayat DP ( 085701798344 ), Offline di Cafe Macan Yusman ( 0811-292-237 ), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY.

Dibuka Oleh GKR Mangkubumi pukul 15.00 WIB pada tanggal 5 Maret 2021 dan akan berlangsung sampai 18 Maret 2021

Video dapat dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=598BdIiexTY&t=57s

Seniman Peduli Bencana yang terlibat dalam event ini diantaranya :

  1. A’Ad Mandar

2. Maria FP

3. Tatiek Mudjiati

4. Kak Aris

5. Hani Santana

6. Budiarto

7.Afit Ruseno

8. R.Kirman

9. Dgam Haryo

10. Mada Linggou

11. Bas Andi Seno

12. Nasirun

13. Sukoco Hayat DP

14. Tulus Warsito

15. N Dyaz

16. Niluh Sudarti

17. Liek Suyanto

18. Anugrah Fadly Kreatoseniman

19. Aris Munandar

20.Otok Bima Sidarta

21.Budi Utomo

22. Nur Azizah

23. Diaz Alvares

24. Igrar De

25. Achmad Masih

26. Suroto

27.Meitika Candra Lantiva

28. Batara Legenda

29. Yulhendri

30. Arlan Kamil

31.Komroden Haro

32. Nugroho Hoho

33. Godod Sutejo

34. Amboro Liring

35. Wantiyo

36. Batara Lubis

37. Slamet Jumiarto

38. Gusyud Wahyudi

39. Mamik Slamet

40. Yamik

41. Sri Utami

42. Dona Rahmawati

43. Yusman

44. Kartika Afandi

45. Didit Slenthem

46. Cubung WP

47. Srijati

48. Agus Wicaksono

49. Abdul Mukti

50. Gan Swie Hiang / Indrawati Gondowinoto

51. Subroto SM

52. Yohanes Edi Wasno

53. Sugeng Hariyanto

54. Boman Sepur

56. Ken Wiwin

57. Barlin Srikaton

58. Mardi Raharjo

59. Bonardi

60. Bay Juri

61. Budi Sepur

62. Eko Rakmi

63. Shella Yolanda Selvi

64. Nunik Yusman

65. Santara Deva Yusman

66. Eksan Cleot

67. Alit Moeljono

68. Totok Buchori

69. Edi Sunarso

70. Erica

71. Igrar De

72. Rizki Nanda Yusman

73. Salma Renno Yusman

74. Intan Yusman

75. Choe Supriyatmi

76.

77. Dimas N Hadi

78. Diani

79. Galang Sepur

80. Sigit Suntoro Sepur

81. Alit Sembodo

82. Suwaji

83. Shodik

84. Titik Tino Sidin

85. Debora Rini

85. Harry Sepur

86.Prilasiana

87. Edi Dwiyantoro

88. Endang Apriyanto

89. Betty Firly

90. Yusman

91.Mufit Al Kafi

92. Agus Yulianto

93. Nurfu AD

94. HERU JONING

95. RINI RERE FADLHAN

Kategori
Event

BAZAR ART ONLINE

PSROO.COM, Yogyakarta (3/2/2021) – Pandemi Covid 19 mengajak semua kegiatan untuk dilakukan secara online. Pandemi menantang kreatifitas semua orang untuk bisa bertahan halam mengais rejeki. Dampak pandemi di rasakan semua orang tanpa terkecuali termasuk para pekerja seni .

Jaga Jarak adalah salah satu anjuran pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Tetapi jaga jarak bukan menjadi pemisah tali silaturahmi, melalui dunia maya yang jauh bisa lebih dekat.Peluang ini menjadi point penting dalam berinteraksi antar sesama secara online.

Dalam rangka peduli dampak Covid Sedulur Nyeni bekerjasama dengan kolomnews.com selalu membuka celah-celah untuk berbagi peluang. Mencari solusi terhadap kahanan adalah target utama  misi sosial dan edukasi.

PSROO.COM  sebuah galeri online dibangun sejak tahun 2019 lalu dengan penuh perjuangan panjang dan tentunya tidak mulus. Jatuh bangun dalam proses pembangunan gedung online ini memerlukan dukungan banyak relawan. Rela menerima kenyataan bahwa beronline ria bukanhal yang mudah,budaya tatap muka masih kental  untuk dipertahankan.

Pandemi Covid memaksa dunia online harus kembali menjadi jalan keluar, Galeri Online PSROO menawarkan Bazart Art untuk membantu para seniman menawarkan karyanya untuk di jual, semoga pundi – pundi dapur bisa ngebul.

Tentunya dibutuhkan peran serta pemerhati seni ikut peduli dengan membeli 1 atau 2 karya yang di bazarkan agar seni  terus dicinta bagi pengkaryanya. Semangart akan berkarya tentu bangkit ketika yang peduli tergelitik untuk lebih peduli.

Sekilas harapan untuk Bazart Art Online Galeri  PSROO  memberi spirit para pelukis, pekerja seni untuk tetap semangat berkaya karena takmemungkinkan Offline masih mungkin untuk Online. Sukoco

Kontak Bazart Art : Sukoco Hayat DP

WA : 085701798344

PESERTA BAZAR ART ONLINE

  1. Sujarwo

2.Achmad Tem

3.Suprapno

4.Surya Eriffin

5. R.Kirman

6.Mariadi

7. Esti.S Ardian

8. Maria FP

9. Budiarto

10. Wantiyo

11.Uga

12. Ovi Kupu Biru

13. Afit Ruseno

14. Mardi Raharjo

15. Mahardi

16. Tatiek Mudjiati

17. Budi Utomo

Mari para seniman kami undang untuk bergabung di Bazar Art Online, Dan kepada para penikmat seni , kolektor silakan diapresiasi dan di pinang.

Hub: Sukoco Hayat DP : 085701798344

Kategori
Event

Pengantar Bazar Art Online

PSROO.COM, Yogyakarta (3/2/2021) – Pandemi Covid 19 mengajak semua kegiatan untuk dilakukan secara online. Pandemi menantang kreatifitas semua orang untuk bisa bertahan halam mengais rejeki. Dampak pandemi di rasakan semua orang tanpa terkecuali termasuk para pekerja seni .

Jaga Jarak adalah salah satu anjuran pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Tetapi jaga jarak bukan menjadi pemisah tali silaturahmi, melalui dunia maya yang jauh bisa lebih dekat.Peluang ini menjadi point penting dalam berinteraksi antar sesama secara online.

Dalam rangka peduli dampak Covid Sedulur Nyeni bekerjasama dengan kolomnews.com selalu membuka celah-celah untuk berbagi peluang. Mencari solusi terhadap kahanan adalah target utama  misi sosial dan edukasi.

PSROO.COM  sebuah galeri online dibangun sejak tahun 2019 lalu dengan penuh perjuangan panjang dan tentunya tidak mulus. Jatuh bangun dalam proses pembangunan gedung online ini memerlukan dukungan banyak relawan. Rela menerima kenyataan bahwa beronline ria bukanhal yang mudah,budaya tatap muka masih kental  untuk dipertahankan.

Pandemi Covid memaksa dunia online harus kembali menjadi jalan keluar, Galeri Online PSROO menawarkan Bazart Art untuk membantu para seniman untuk menawarkan karyanya untuk di jual, semoga pundi – pundi dapur bisa ngebul.

Tentunya dibutuhkan peran serta pemerhati seni untuk ikut peduli dengan membeli barang 1 atau 2 karya yang di bazarkan agar seni  terus dicinta bagi pengkaryanya. Semangart akan berkarya tentu bangkit ketika yang peduli tergelitik untuk lebih peduli.

Sekilas harapan untuk Bazart Art Online Galeri  PSROO  memberi spirit para pelukis, pekerja seni untuk tetap semangat berkaya karena takmemungkinkan Offline masih mungkin untuk Online. Sukoco

Kategori
Event

Pameran Seni Rupa “Ekspresi” Kelompok 7+

Profile Kurator Pameran, Dr.Drs. Hajar Pamadhi M.A, Hons :

MANIFESTO EKSPRESIONISME
Sebuah catatan kecil dalam Pameran Seni Rupa ‘Ekspresi’ Kelompok 7+
Oleh: Hajar Pamadhi

Pada tahun 1855 Gustave Courbet menulis manifesto Realis untuk pengenalan katalog pameran pribadinya yang independen. Dan pada tahun 1886 itu Manifesto Simbolisme diterbitkan di surat kabar Prancis Le Figaro oleh penyair dan penulis esai Jean Moréas.

Mengawali catatan pinggir untuk Pameran Seni Rupa “Ekspresi” 7+ ini dari gagasan Gustave Courbet yang pernah mengunggah gagasan Manifesto Realis; yang banyak menarik pengikutnya setelah salon de Refuge menolak hasil karyanya. Manifesto Realis ini membandingkan dengan karya-karya ‘Seni Akademik’ yang bercokol di dunia ‘Seni Rupa’ saat itu. Terjadilah Tarik ulur antara penikmat seni yang masih mengagumi seni-seni Realisme Klasik. Karya seni ini berangkat dari kemampuan detailing karya dengan objek utamanya sebuah idealism hidup. Kemudian ide kreatif Courbet mencoba mengakarkan objek di luar koloni seni yang sedang marak pada saat itu, akhirnya kesenian mengantarkannya ke dunia Seni Realisme, dan menyebut Courbet sebagai bapak Realisme.

Seni Realisme yang mengangkat dunia bawah dengan objektifikasinya “Stone Breaker’ ini pada tahun 1886 menjadi ‘Manifesto Simbolisme’ (surat kabar Prancis Le Figaro). Gerakan Sosialisme Realisme menjadi dasar kehadiran ide sosialisme. Memang saat itu beberapa tulisan tentang ‘kerakyatan’ di bidang sastra sudah mendahului, sehingga seperti sebuah sinergitas diantaranya seni sastra dan seni rupa menjadi titik garapnya adalah ‘mampu memasyarakat’ dimana dunia seni sebagai jalan pemberontakan sosial (von unten).

Dari sinilah, Coubet menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat; seni menjadi kendaraan politiknya.
Selang abad baru, pada tahun 1909 muncul Manifesto Seni Futuris di Italia dengan mengajak para perupa Kubisme, Vorticistisme, Dadaisme dan Surealisme. Manifestonya melebar sampai pada Perang Dunia II dan ini menjadi titik awal orang bicara masalah ‘manifesto seni’. Hal ini dijadikan tonggak perubahan Seni bagi para Stuckism untuk merubah visi berkesenian, misalnya di tahun 1918 hadir ‘Manifesto Abstraksionisme’ yang selanjutnya menggeret kesenian lain sebagai kebalikannya seperti ‘Manisfesto Figuratif’(1999) oleh Billy Childish dan Charles Thomson dengan basis lukisan figuratif sebagai lawan seni konseptual (Seni Abstrak).

Di Indonesiapun hadir ‘Manifesto Abstrak’ yang dipelopori oleh Freddy, Ade Artie, Agus Budiyanto, Aming Prayitno, Amlan Maladi, Andi Suandi, AR Soedarto, AT Sitompul, Bibiana Lee, Dedi Sufriadi, Eddy Hermanto, dan Elisha. Lalu, ada pula Gogor Purwoko, Krishna Eta, Makhfoed, dan Nunung WS (2005) (https://mediaindonesia.com/weekend/6166/menjaga-manifesto-abstrak) Gerakan ini diungkap pula oleh Rusnoto (2011) dikatakan sebagai gelora Abstraksionisme Indonesia.

Pada akhir Mei ini para perupa Kelompok 7+ mencoba memberi warna lain sebagai Gerakan ‘Seni Ekspresionisme’ dengan mengetengahkan gambaran perjalanan seni rupa tahun 2021. Seolah ingin memberontak dengan ‘Manifesto Ekspresionisme’ dengan menampilkan perupa: Sukoco Hata DP, Menol Juminar, Nining Niluh Sudarti, Rudy Prastantyo, Timur Adi Jiwanto, Andi Hartana, Victory Crhistiani dan Dwi Haryanta. Perupa ekspresionisme ini mempunyai kekhasan dengan basis abstrak figuratif dan nonfigurative sehingga menjadi khasanah sendiri dalam menorehkan warna di atas kanvasnya masing-masing. Sukoco, Menol, Nining, Victorya dan Andi Hartana memilih nonfigurative dengan mengembangkan gagagsan ekspresi warna sebagai kesan utamanya. Sedangkan Dwi Haryanta, Rudy Prastantyo, Timur Adi Jiwanto mengambil figure sebagai starting point untuk berekspresi. Kekuatan warna ini menjadi sebuah impres dari figure yang diobjektifikasikan, kemudian warna menjadi simbol komunikasi kepada khalayak dengan mengombinasikan bentuk bebas.

Sukoco memberi aksentuasi ‘warna dominan’ sedangkan Andi Hartana bentuk dari pada warnanya.; namun dengan konsepsi kolegialitas ini menorehkan bentuk dan warna sebagai variasi karyanya, seperti halnya Menol aktif dalam mengimplementasikan rasa dalam warna, sesekali mengikuti manifesto Abstraksionisme. Nining mencoba mengimpres bunga sebagai objek namun tersamarkan dengan kemampuan pengolahan warna bahkan warna dominan yang feministic ini maju mengalahkan objek bunganya, dan tidak terkesan pengikut Impresionisme. Andi Hartana menguatkan kemampuan gores yang disubstansikan kepada warna monotone sehingga ekpresi garis lebih menonjol. Rudy Prastantyo mengangkat bentuk figure wajah manusia sebagai starting point ide dan mencoba membaca wajah seseorang agar point of interest nya adalah menampilkan karakter. Ekspresi seseorang sebagai symbol imajinasinya dan akan menjadi karakteristik karya-karyanya yang akan memfokuskan membaca wajah seseorang.

Timur dengan ambisi idealism mencoba mengajak penikmat memahami imajinasinya dengan menampilkan ‘dunia awan’ sebagai komunikasi batinnya. Konsepsi futuristic ini menjadi cirikhas dari Timur yang merenung hidup di atas anginnya. Hal yang berbeda jauh dengan Dwi Haryanta yang selalu berangkat dari gubahan bentuk yang mengesakan impresif. Warna-warna ekspresionisme membedakan lukisan Monet denga Dwi Haryanta, yaitu menjadikan symbol warna sebagai jati dirinya setelah membaca watak objek. Ayam Jago sebagai pilihannya ini ditunjukkan bukan saja dari kesan bentuk yang ekspresif, namun warna dominan sebagai komposisi mutlaknya membawa kesan bahwa memunculkan ‘jago adalah binatang berkelamin jantan’.

Variasi pameran seni rupa ekspresi ini memberi kesan khas, bahwa bentuk dan warna itu dapat dijadikan sebagai pelumas merepresentasikan objek, baik objek figurative mapupun nionfiguratif. Semoga pameran Seni Rupa ekspresi yang membawa konsep Manifesto Ekspresi di Rumah Budaya Tembi ini bukan pameran kelompok yang terakhir, namun sebagai titik besaran kesuksesan di masa yang akan datang.


SELAMAT BERPAMERAN, SUKSES HARI INI ADALAH BATU LONCATAN KERBERHASILAN DI MASA YANG AKAN DATANG.

                      Sleman, 27 Mei 2021

Media Promosi : Youtube Sedulur Nyeni

Peserta Pameran : KELOMPOK 7+
Artist :
1. Menol Juminar


2. Sukoco Hayat DP


3. Dwi Haryanta

4. Andi Hartana


5. Timur Adi Jiwanto

6. Rudi Prastyanto

7. Nining Niluh Sudarti

8. Victorya Christiani

Video Pembukaan Pameran :

Perform art Panca ( Tari Tumandang Gawe )

Foto-foto pembukaan pameran:

Berita Pameran Ekspresi :

sedulurnyeni.com

Kategori
Event

Pameran Seni Rupa Online “ Ini Karyaku #2 “

Pemeran seni rupa menjadi sebuah kewajiban bagi seorang seniman lukis, patung, Instalasi dan lainya. Seiring perkembangan jaman pameran seni rupa tidak meski dilakukan secara offline, tetapi pameran secara Virtual semakin digemari karena dirasa lebih praktis, efisien dan mampu menjangkau pengunjung lebih luas. Hanya dengan HP dapat menikmati sebuah pameran virtual dimanapun berada.

Pameran ini sangat tepat untuk menjaga eksistensi para Pengkarya/ Seniman di jaman sekarang. “Ini Karyaku #2 “diselenggarakan untuk kembali mengajak para kreator/ pengkarya/ seniman menunjukan karya terbaiknya, dan mengingatkan kita pada Pameran Virtual “Ini Karyaku #1” di tahun 2019 lalu yang mendapatkan Aprsiasi Dari Original Rekor Indonesia.

Beberapa seniman berpartisipasi dalam pameran Seni Rupa Ini Karyaku #2, Sujarwo dengan kekuatan figuratif tampak magis mengekspresikan sebuah balada corona yang masih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu karyanya menunjukan kereligiusan dengan ibadah bersama memohon kepada  Tuhan untuk diberi perlindungan pada masa dan kondisi seperti ini.

Beberapa karya Mr. Aditya juga mengangkat tema religius tampak pada karya lukis kaligrafinya dan dipertegas dengan foto profile berbaju koko dan kopyah menunjukan Mr. Aditya seniman yang religius, walau ada karya dengan sosok macan, menunjukkan semangat dalam berkarya, kreatif dan pantang menyerah.

Ini Karyaku #2 memberi ruang bebas kreatif untuk menampilkan potensi setiap seniman. Gogoek Hardiman kuat pada cat air dengan figur simbolis diantaranya mengangkat budaya pewayangan penuh makna yang dalam sebagai obyek karyanya.Bayu Kurniawan memberi warna dan bentuk kesederhanaan sehingga karyanya tampak lembut dengan goresan mengimplementasikan perasaan lembut pula, Elemen koin rupiah dimasukkan menjadi bagian media menjadikan karyanya tambah unik membentuk simbol dan figur tertentu.

Batara Legenda mengabadikan tokoh – tokoh cerita legenda yang tetap masih kental dalam ingatan masyarakat sampai saat ini. Sosok Nyai Ratu Kidul salah satu figur yang di legendakan oleh Batara legenda.

Rudy TS menampilkan figur penari bumbung, tari baris dengan warna serta goresan yang khas penuh irama di tambah karya berjudul Hijrah lebih menonjolkan pada konsep yang dalam dengan visual yang mantabs dan pas menyentuh perasaan.

Augustinus dengan teknik blobor cat air sangat ekspresip menampilkan sosok penari dengan kekuatan di wajah, sorot dan tatapan mata memperlihatkan ketegasan yang spotan dalam setiap goresan karyanya, terlihat juga kekuatan arsitektural dalam karya cat air yang berjudul Kota Lama. Imade Sukanadi mengeksplor pada keindahan alam mengiplementasikan keagungan Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Keunikan masing-masing seniman dengan karakter serta filosopi yang beragam memberi warna tersendiri dalam pameran seni rupa online Ini Karyaku #2. Debora Rini, Niluh Sudarti dan Nur Azizah adalah sosok wanita Kartini modern turut mensuport perjalanan pameran online kekinian dengan karyanya yang berkarakter kuat dalam simbol – simbol figur serta warna tegas.

Pelukis generasi muda : Charles Bhagaskara Taylor, Carolina B. V. Taylor, Renate E. V. Taylor, Ricke K. Wijaya dan Aruma Locita Ifenda dengan gaya dan keunikan masing- masing melengkapi warna warni pameran seni rupa ” Ini Karyaku #2 “.

Harapan penyelenggara pameran ini semakin banyak yang mengapresiasi, memberi kenyamanan bagi seniman peserta, menambah semangat, mengedukasi bagi masyarakat penikmat seni, sebagai sarana promosi  dan menjaga eksistensi seniman, memberi ruang bagi kolektor dalam melihat dan mengkurasi karya – karya terbaik seniman secara virtual.

Selamat berpameran “ Ini Karyaku #2 “

Yogyakarta ( 30/4/2021 )

Penulis : Sukoco Hayat DP

Penyelenggara : Sukoco Hayat DP ( 085701798944 )

Untuk melihat Video Youtube Pameran “Ini Karyaku #2 ” dapat juga di klik di sini dan 18 artist klik di sini

Peserta Pameran :

  1. Sujarwo

2. Augustinus MP

3. Gagoek Hardiman

4. Batara Legenda

5.Batara Inkarnasi

6. I Made Sukanadi

7. Bayu Kurniawan

8. Debora Rini

9. Mr.Aditya

10. Rudy TS

Pameran Seni Rupa Online “ Ini Karyaku #2 “

11. Nur Azizah

12. Sukoco Hayat DP

13. Aruma Locita Ifenda

14. Charles Bhagaskara Taylor

15. Carolina B. V. Taylor

16. Renate E. V. Taylor

17. Ricke K. Wijaya

18. Nining Niluh Sudarti

Kategori
Event

Wisata Seni di Pameran Obah Owah

Pameran Obah Owah merupakan pameran lukisan yang melibatkan ratusan pelukis dari berbagai daerah di Indonesia,diselenggarakan oleh IPI Ikatan Pelukis Indonesia Cabang Yogyakarta, lokasi pameran di Pendhapa Art Space Sewon , Bantul, DIY. Kurator dalam pameran ini adalah Hajar Pamadhi, dan di Buka Oleh Dian Ari Ani ( Direktur BPD DIY & Pemerhati Seni ) Berlangsung 16 – 23 Januari 2021.

Selamat menikmati Indahnya Karya Seni Lukis:

Kategori
Event

Pameran‘Ladang Jiwa’Laksmi Shitaresmi

Yogyakarta – Pameran Tunggal Laksmi Shitaresmi yang bertajuk‘Ladang Jiwa’di buka oleh Dr. KH. Fahmi Akbar Idris, Selasa, 29 Desember 2020, pukul 19.30 wib, menampilkan 20 karyapotret diri dengan sentuhan drawing menggunakan pencil dan direspon sketsa menggunakan tinta china. Pameran yang dikuratori A. Anzib, berlangsung di Pendhapa Art Space Yogyakarta, 29 Desember 2020 – 12 Januari 2021.

Karya-karya Laksmi masih bercerita tentang pengalaman hidupnya sehari-hari, bagaimana membesarkan buah hatinya dengan penuh kasih sayang, kesabaran dan tanggung jawab. Suka duka begitu tampak dari beberapa potret diri yang dengan teknik drawingnya. Kebahagiaan menikmati setiap proses yang dilaluinya memberi kanenergi kuat, dalam garis menjalani hidup.

“Saya selalu menyempatkan untuk terus berkarya, sebagai keseimbangan dan kebutuhan berekspresi.Walau begitu keluarga adalah paling utama, anak-anak masih sangat butuh perhatian,” kata Laksmi yang dihubungi via telpon, 9/01/2020.

Laksmi menjelaskan bahwa, setiap peristiwa yang membekas hanya di selami oleh jiwa, sehingga karya-karya terus terlahir menjadi imajinasi dan inspirasi seperti ladang, judul karyanya pun Ladang Jiwa 1-20. Kali ini saya menampilkan karya drawing dengan coretan spontan, pungkasnya.

Sementara Anzib dalam kuratorialnya menuliskan, “Pada pameran tunggal kali ini, Laksmi Shitaresmi yang memiliki empat putri, hanya memamerkan sketsa yang dikombinasikan dengan drawing di atas kertas berukuran A3. Karya-karyanya ini dikerjakan secara spontan, tidak seperti karya –karya sebelumnya  yang detail dengan arsiran. Seakan menggambarkan sepotong pengalaman hidupnya lewat garis.”

Meskipun di masa pandemic covid 19, para pengunjung pameran tetap banyak, selalu ada yang datang setiap harinya dan tetap mengikuti anjuran pemerintah dengan menggunakan masker, cucitangan dan jaga jarak. Hal ini diuangkapkan manajemen Pendhapa Art Space. Jajangkawentar.

Laksmi Shitaresmi kedua dari kiri
Ladang jiwa #8, pencil dan tinta China di atas kertas A3, 2020
Ladang jiwa #2, pencil dan tinta China di atas kertas A3, 2020
Kategori
Event

Pameran Kuliner Online

Dalam rangka mengindahkan anjuran pemerintah untuk mengurangi kerumunan, Galeri Online PSROO Mengadakan Pameran Kuliner Online untuk meningkatkan promosi Resto/ Produk kuliner secara online yang akan diselenggarakan pada tanggal 20 Januari Hingga 20 Februari 2021 sehingga sirkulasi pasar tetap terus berjalan.Kami Bersinergi dengan siapa saja untuk menjadi mitra.

Terimakasih

Sukoco Hayat DP : Pengelola Galeri Online PSROO.COM

Kontak : 085701798344

SELAMAT BERPAMERAN

Peserta Pameran :

1.Serasa Tempoe Doeloe

2.Ayam Goreng Mbak Cita

https://gofood.co.id/bahasa/yogyakarta/restaurant/ayam-goreng-mbak-citha-adb8f813-4fbc-4c6b-a146-5b734444ac5f

3. Kopi Stoury

4.Bebek Goreng Pak eRTe

5. Bakwan Kawi Benua Borneo

https://simpellink.com/BakwanKawiBenuaBorneo

6. Es Pisang Ijo San-San

7. Kedai Sinje (0818-0275-1979)

https://gofood.co.id/bahasa/yogyakarta/restaurant/kedai-sinje-kricak-829a8dc0-0faf-4db8-8bc2-780c344123a6

8. JOGLO PARIKESIT

9. KOMAR CHICKEN & GEPREK

Kategori
Event

PSROO Pameran Seni Rupa Offline Online

PSROO Pameran Seni Rupa Offline Online