Kategori
Event

Pameran Seni Rupa “Ekspresi” Kelompok 7+

Profile Kurator Pameran, Dr.Drs. Hajar Pamadhi M.A, Hons :

MANIFESTO EKSPRESIONISME
Sebuah catatan kecil dalam Pameran Seni Rupa ‘Ekspresi’ Kelompok 7+
Oleh: Hajar Pamadhi

Pada tahun 1855 Gustave Courbet menulis manifesto Realis untuk pengenalan katalog pameran pribadinya yang independen. Dan pada tahun 1886 itu Manifesto Simbolisme diterbitkan di surat kabar Prancis Le Figaro oleh penyair dan penulis esai Jean Moréas.

Mengawali catatan pinggir untuk Pameran Seni Rupa “Ekspresi” 7+ ini dari gagasan Gustave Courbet yang pernah mengunggah gagasan Manifesto Realis; yang banyak menarik pengikutnya setelah salon de Refuge menolak hasil karyanya. Manifesto Realis ini membandingkan dengan karya-karya ‘Seni Akademik’ yang bercokol di dunia ‘Seni Rupa’ saat itu. Terjadilah Tarik ulur antara penikmat seni yang masih mengagumi seni-seni Realisme Klasik. Karya seni ini berangkat dari kemampuan detailing karya dengan objek utamanya sebuah idealism hidup. Kemudian ide kreatif Courbet mencoba mengakarkan objek di luar koloni seni yang sedang marak pada saat itu, akhirnya kesenian mengantarkannya ke dunia Seni Realisme, dan menyebut Courbet sebagai bapak Realisme.

Seni Realisme yang mengangkat dunia bawah dengan objektifikasinya “Stone Breaker’ ini pada tahun 1886 menjadi ‘Manifesto Simbolisme’ (surat kabar Prancis Le Figaro). Gerakan Sosialisme Realisme menjadi dasar kehadiran ide sosialisme. Memang saat itu beberapa tulisan tentang ‘kerakyatan’ di bidang sastra sudah mendahului, sehingga seperti sebuah sinergitas diantaranya seni sastra dan seni rupa menjadi titik garapnya adalah ‘mampu memasyarakat’ dimana dunia seni sebagai jalan pemberontakan sosial (von unten).

Dari sinilah, Coubet menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat; seni menjadi kendaraan politiknya.
Selang abad baru, pada tahun 1909 muncul Manifesto Seni Futuris di Italia dengan mengajak para perupa Kubisme, Vorticistisme, Dadaisme dan Surealisme. Manifestonya melebar sampai pada Perang Dunia II dan ini menjadi titik awal orang bicara masalah ‘manifesto seni’. Hal ini dijadikan tonggak perubahan Seni bagi para Stuckism untuk merubah visi berkesenian, misalnya di tahun 1918 hadir ‘Manifesto Abstraksionisme’ yang selanjutnya menggeret kesenian lain sebagai kebalikannya seperti ‘Manisfesto Figuratif’(1999) oleh Billy Childish dan Charles Thomson dengan basis lukisan figuratif sebagai lawan seni konseptual (Seni Abstrak).

Di Indonesiapun hadir ‘Manifesto Abstrak’ yang dipelopori oleh Freddy, Ade Artie, Agus Budiyanto, Aming Prayitno, Amlan Maladi, Andi Suandi, AR Soedarto, AT Sitompul, Bibiana Lee, Dedi Sufriadi, Eddy Hermanto, dan Elisha. Lalu, ada pula Gogor Purwoko, Krishna Eta, Makhfoed, dan Nunung WS (2005) (https://mediaindonesia.com/weekend/6166/menjaga-manifesto-abstrak) Gerakan ini diungkap pula oleh Rusnoto (2011) dikatakan sebagai gelora Abstraksionisme Indonesia.

Pada akhir Mei ini para perupa Kelompok 7+ mencoba memberi warna lain sebagai Gerakan ‘Seni Ekspresionisme’ dengan mengetengahkan gambaran perjalanan seni rupa tahun 2021. Seolah ingin memberontak dengan ‘Manifesto Ekspresionisme’ dengan menampilkan perupa: Sukoco Hata DP, Menol Juminar, Nining Niluh Sudarti, Rudy Prastantyo, Timur Adi Jiwanto, Andi Hartana, Victory Crhistiani dan Dwi Haryanta. Perupa ekspresionisme ini mempunyai kekhasan dengan basis abstrak figuratif dan nonfigurative sehingga menjadi khasanah sendiri dalam menorehkan warna di atas kanvasnya masing-masing. Sukoco, Menol, Nining, Victorya dan Andi Hartana memilih nonfigurative dengan mengembangkan gagagsan ekspresi warna sebagai kesan utamanya. Sedangkan Dwi Haryanta, Rudy Prastantyo, Timur Adi Jiwanto mengambil figure sebagai starting point untuk berekspresi. Kekuatan warna ini menjadi sebuah impres dari figure yang diobjektifikasikan, kemudian warna menjadi simbol komunikasi kepada khalayak dengan mengombinasikan bentuk bebas.

Sukoco memberi aksentuasi ‘warna dominan’ sedangkan Andi Hartana bentuk dari pada warnanya.; namun dengan konsepsi kolegialitas ini menorehkan bentuk dan warna sebagai variasi karyanya, seperti halnya Menol aktif dalam mengimplementasikan rasa dalam warna, sesekali mengikuti manifesto Abstraksionisme. Nining mencoba mengimpres bunga sebagai objek namun tersamarkan dengan kemampuan pengolahan warna bahkan warna dominan yang feministic ini maju mengalahkan objek bunganya, dan tidak terkesan pengikut Impresionisme. Andi Hartana menguatkan kemampuan gores yang disubstansikan kepada warna monotone sehingga ekpresi garis lebih menonjol. Rudy Prastantyo mengangkat bentuk figure wajah manusia sebagai starting point ide dan mencoba membaca wajah seseorang agar point of interest nya adalah menampilkan karakter. Ekspresi seseorang sebagai symbol imajinasinya dan akan menjadi karakteristik karya-karyanya yang akan memfokuskan membaca wajah seseorang.

Timur dengan ambisi idealism mencoba mengajak penikmat memahami imajinasinya dengan menampilkan ‘dunia awan’ sebagai komunikasi batinnya. Konsepsi futuristic ini menjadi cirikhas dari Timur yang merenung hidup di atas anginnya. Hal yang berbeda jauh dengan Dwi Haryanta yang selalu berangkat dari gubahan bentuk yang mengesakan impresif. Warna-warna ekspresionisme membedakan lukisan Monet denga Dwi Haryanta, yaitu menjadikan symbol warna sebagai jati dirinya setelah membaca watak objek. Ayam Jago sebagai pilihannya ini ditunjukkan bukan saja dari kesan bentuk yang ekspresif, namun warna dominan sebagai komposisi mutlaknya membawa kesan bahwa memunculkan ‘jago adalah binatang berkelamin jantan’.

Variasi pameran seni rupa ekspresi ini memberi kesan khas, bahwa bentuk dan warna itu dapat dijadikan sebagai pelumas merepresentasikan objek, baik objek figurative mapupun nionfiguratif. Semoga pameran Seni Rupa ekspresi yang membawa konsep Manifesto Ekspresi di Rumah Budaya Tembi ini bukan pameran kelompok yang terakhir, namun sebagai titik besaran kesuksesan di masa yang akan datang.


SELAMAT BERPAMERAN, SUKSES HARI INI ADALAH BATU LONCATAN KERBERHASILAN DI MASA YANG AKAN DATANG.

                      Sleman, 27 Mei 2021

Media Promosi : Youtube Sedulur Nyeni

Peserta Pameran : KELOMPOK 7+
Artist :
1. Menol Juminar


2. Sukoco Hayat DP


3. Dwi Haryanta

4. Andi Hartana


5. Timur Adi Jiwanto

6. Rudi Prastyanto

7. Nining Niluh Sudarti

8. Victorya Christiani

Video Pembukaan Pameran :

Perform art Panca ( Tari Tumandang Gawe )

Foto-foto pembukaan pameran:

Berita Pameran Ekspresi :

sedulurnyeni.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *